Kopi Jujur, Kopi Asli Tanpa Campuran Essen

Kopi Jujur, Kopi Asli Tanpa Campuran Essen – Siapa yang tak mengenal kopi atau ngopi?, tentunya sebagai orang Indonesia sangat mengenalny...

Cerpen - Pelabuhan Cinta Yang Tenggelam

Pelabuhan Cinta  Yang Tenggelam - Terkadang Aku Diam, Terkadang Pula Aku bicara, berteriak, bahkan menangis. Namun tiada yang peduli, tiada yang menjawab, tak ada yang menyapa, dan tiada yang menghiraukan. 
Pelabuhan Cinta  Yang Tenggelam

Apakah diamku mengacuhkanmu?, apakah suaraku membuatmu bising?, atau tangisku membuatmu terusik?. Jika iya, Beri aku penjelasan agar aku dapat mengerti bagamana bersikap baik kepada waktu yang kini terisi penuh dengan cobaan dan rintangan. 

Dan jika tidak, beri aku sedikit ruang untukku mencari jawaban agar bisa membuatmu mengerti jika saat ini itulah yang bisa aku lakukan untuk bertahan hidup. 

Mungkin sebuah alasan tak akan membuatmu percaya dengan rasa cinta yang ku punya untukmu. Mungkin pula ucapan tak bisa membuatmu merasa yakin dengan kesungguhan hati memilikimu, atau setia yang aku anyam dalam waktuku tak akan mampu membuatmu merasa puas atas rindu yang tertulis atas namamu. 

Untuk itulah, Aku hanya ingin membuktikan kepada dunia lewat kalimat dalam lembaran cinta yang aku tulis ini agar kau mengerti dan mereka memahami jika aku adalah seseorang yang begitu mencintaimu tanpa pamrih. 

Tak mudah bagiku untuk takluk dengan alasan cinta saja untuk tidak merindukan seseorang. Tak mudah membuatku berjuang, bertahan dalam setia yang teramat sunguh dalam hidupku untuk memegang satu rasa, satu tujuan untuk bisa memiliki satu tempat terindah dalam dunia ini, dan tak mudah waktu memberiku pengertian jika cinta itu indah bukan derita. 

Aku adalah orang yang sulit menerima kenyataan, jika aku adalah orang yang sulit untuk mencintai seseorang. Bukan pemilih, hanya saja aku tak mampu berkata indah tentang cinta dihadapan orang yang aku suka. aku pemalu, aku penakut bahkan aku lebih nyaman dengan aktivitas senduku yaitu memuji anugerah cinta dalam sebuah kertas yang berbisik lewat kalimat indah dari pelabuhan cintaku. 

Hari ini dan seterusnya, sepertinya aku akan selalu begitu, menelusuri kaidah-kiadah cinta yang tersembunyi dalam hatiku. Bukan karena aku tak bisa memilih satu tujuan untuk bisa ku tempati, namun dia yang pernah ada di dalamnya telah membuat aku lupa, jika aku hanya akan mati tenggelam dalam pelabuhan cinta masa lalu yang sudah sepatutnya aku tinggalkan. 

Namun kenangan itu terlalu kejam menindasku, dalam tekadku untuk melupakannya, aku semakin tenggelam dalam lembaran-lembaran rindu yang pernah aku tulis untuknya waktu itu, waktu saat pertama kali aku mengenalnya, hingga aku fokus jika dialah jodohku. 

Pernyataanku salah, namun goresan itu telah membuktikan kepada dunia, jika aku pernah mengatakan hal yang sama, yaitu merindukanmu hingga waktu yang tak mampu kubatasi bahkan sampai saat ini. walaupun aku sangat mengetahui jika itu tak akan mungkin lagi untuk aku teruskan. Tapi rindu itu terus menggodaku untuk memuji dalam khayal, dalam diam dan sepi tentang semunya cinta, semu yang pernah indah aku dapatkan darimu. 

Aku telah berusaha meninggalkan segala senyum dan kenangan tentangmu, namun tetap saja aku tak bisa, tak bisa menyembunyikan rasa dalam hati betapa aku masihlah terperangkap dalam diri yang dulu. Tak selayaknya aku menyimpan berkas cinta yang pernah ada di dalam kalimat karyaku, dan aku telah berusaha untuk membuang semuanya agar kerinduan perlahan memudar seiring senja berganti malam dan malam berganti siang. 

Namun waktu tak mampu diam dalam sunyi, ia terus berontak dan selalu berusaha mencari celah untuk mengajakku bercengkrama dalam nostalgia masa lalu, kemana kaki melangkah, seakan aku berada dalam kurungan cintanya, dimana pun aku singgah seakan bayangmu selalu mengikuti gerak tubuhku. 

Apakah aku masih merindukanmu, aku masih menunggumu, aku masih mengharapkanmu atau aku telah melupakanmu?, Entahlah, semua seakan bercampur aduk dalam lembaran rindu, semakin bergejolak syahdu dalam kubangan hatiku yang kini tenggelam bersama luka darimu.
Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel