Kakak Pertamaku Sakit (Novel Si Kulup Kun Bagian 8)

Kakak Pertamaku Sakit (Novel Si Kulup Kun Bagian 8) - Masa kuliah aku lalui dengan banyak cerita yang selalu tersimpan rapi dalam cerita hidupku. Tak peduli itu telah memberiku rasa sakit, rasa kecewa, air mata dan duka yang mendalam, yang jelas aku menikmati dengan penuh rasa syukur atas nikmat yang telah Tuhan karuniakan dalam hidupku. 
Kakak Pertamaku Sakit (Novel Si Kulup Kun Bagian 8)

Setelah semua berlalu, dimana aku telah menjadi seorang sarjana. Bersama adik ketigaku, Alhamdulillah bisa menamatkan kuliah dengan baik. Tak banyak yang aku harapkan setelah aku lulus dari pendidikan yang menurutku itu adalah pendidikan terbaik dalam hidupku karena setelah kelulusan itu aku tak berharap bisa melanjutkannya lagi karena saat itu adik terakhir masih dalam tahap kuliah juga, dimana aku turut membiayai pendidikannya itu. 

Segala hal yang terjadi di masa kuliah, biarlah terjadi disini dan apapun alasanya, semua akan berubah dan aku sangat berharap ke depannya bisa memberiku celah yang lebih baik untuk dapat memberikan yang terbaik dan kebahagian kepada Ibu tercinta, keluarga dan bisa bermanfaat juga untuk orang lain atas ilmu pengetahuan yang aku dapatkan dari masa kuliahku. 

Memang benar, jika jalan hidup seseorang di duniapenuh dengan misteri yang tak seorang pun yang mampu menebak apa yang akan terjadi ke depannya. Seperti itu pula yang terjadi pada aku, aku yang begitu rentan dengan duka tanpa henti mengelilingi jalan hidupku hingga aku tamat kuliah. 

Sebab, Saat aku baru saja menamatkan pendidikan tertinggi dalam hidupku bersama adik ketigaku. Badai cobaan kembali hadir dalam keluargaku, dimana ibu harus kembali menanggung beban derita yang tak asing lagi untuk ia rasakan dalam hidupnya. 

Ibu yang selalu tersenyum dalam keadaan apapun, Ibu yang selalu memberi semangat di saat badai cobaan datang silih berganti seakan tak pernah menyerah dan tak pernah berkata lemah ketika cobaan tersebut kembali menyelimuti diri dan hatinya dengan kesedihan. 

Kesedihan itu datang dari kakak pertamaku, dimana kakak pertama mengalami sakit. Sakit yang ia dapatkan sejak ia terjatuh di kamar mandi dan mengalami gangguan di tulang belakangnya. 

Musibah yang menimpa kakak pertamaku, membuatnya ia harus menanggung rasa sakit dan tidak bisa berjalan alias lumpuh untuk waktu yang lama. Melihat kondisi kakak pertamaku, sekan Ibu hanya mampu berpasrah diri kepada Tuhan dalam usaha yang ia lakukan bersama kakak iparku untuk mencari solusi untuk bisa mengembalikan kakakku menjadi sehat kembali lagi seperti sedia kala. 

2 Tahun kakak pertamaku mengalami lumpuh dan Ibulah yang selalu mengurusi kakak pertamaku itu dengan penuh kasih sayang dan terus berupaya untuk mencari obat agar kakakku cepat sembuh dari penyakitnya tersebut. 

Berbagai cara dan usaha di tempuh Ibu bersama kakak iparku untuk mencari solusinya, namun setiap jalan yang di tempuh belum memberi tanda yang baik untuk kesembuhan kakak pertamaku tersebut. 

Sedih rasanya jika aku mengenang hal tersebut, di saat semua tak berjalan dengan baik, cobaan seakan begitu ramah dengan keluargaku. Aku sangat sedih melihat kondisi tersebut, namun apa daya tak mampu membantu lebih untuk bisa merningankan beban yang di tanggung Ibu dalam mengurusi kakak pertamaku dalam menjalani masa pemulihannya. 

Ibuku yang luar biasa bukan saja harus mengurusi kakak pertamaku yang sakit saat itu, dimana ia juga harus berbagi kasih dan sayang untuk mengurusi ketiga keponakanku yaitu anak dari kakak keduaku dan 2 anak kakak pertamaku yang saat itu tinggal bersama Ibu di rumah ku. Hal itu dilakukan agar semua dapat Ibu kendalikan dengan baik dan burusaha semampu diri untuk bisa melewatinya dengan baik walaupun semakin terlihat di paras dan raut wajah Ibu jika ia begitu sedih dengan keadaan tersebut. 

2 Tahun lebih kakakku mengalami sakit tak bisa berjalan, Namun Tuhan masih sayang kepadanya, dimana saat kakak iparku mendapatkan rejeki, kakak pertamaku akhirnya dapat perawatan yang lebih baik di rumah sakit, dimana sebelumnya ia hanya mendapatkan obat tradisional dari kampung karena memang tak ada biaya untuk bisa masuk rumah sakit. 

Dengan kakak pertamaku dirawat di rumah sakit, ia mendapatkan perawatan yang lebih baik dan terbukti hal itu dapat berjalan dengan baik dimana dalam 2 bulan dalam masa penyembuhannya, perlahan kakakku bisa berjalan kembali walaupun masih tertatih. 

Masa Perawatan di rumah sakit sudah usai dilaksanakan, dan saran dokter semua telah berjalan dengan baik dalam masa pengobatannya dan dibolehkan untuk pulang ke rumah. 

Kakak pertamaku pulang ke rumah dan perlahan semua berjalan dengan baik dimana kakakku saat ini telah kembali normal seperti sediakala. Kesembuhan kakak pertamaku tentunya di sambut bahagia oleh Ibu, kakak iparku dan juga keluarga semuanya. 

Bagi Ibu, Kesembuahan kakak pertamaku adalah karunia Tuhan yang masih sayang kepada Ibu, Ibu yang begitu luar biasa yang aku milliki di atas dunia ini. Malaikat yang luar biasa yang Tuhan titipkan dalam hidupku dan keluargaku. 

Ibu selalu berkata, tak ada yang mampu ia berikan untuk kami anaknya, hanya mampu memberikan air mata, kasih sayang, dan kemampuan yang mampu ia berikan untuk kami. 

Aku sangat menyadari, Jika setelah Ibu, Aku tak akan pernah bertemu dengan seseorang wanita yang luar biasa lagi di atas dunia ini. Sulit rasanya jika aku mencari satu bintang yang berkelip di langit yang sinarnya tak pernah padam walaupun siang dan gelap mengelilingnya. 

Dia Ibuku, Tak akan mampu aku samakan dengan seseorang yang begitu sayang di atas dunia ini, bahkan harta dan juga perhiasanya yang istimewa, Ibuku melebihi dari segalanya itu. 

Jika kau bertanya, apa yang dapat aku banggakan hidup di dunia ini, maka aku akan menjawabnya dengan tegas, Yaitu Seorang Ibu yang luar biasa yang telah menghadirkan aku diatas dunia ini. 

Sedetik pun tak pernah aku lalui usaha, perjuangan, kasih sayang dari seorang Ibuku yang luar biasa tersebut. Hal yang tak mungkin aku balas, walaupun aku mampu membuat gunung menjadi bongkahan emas, lautan menjadi hamparan mutiara dan semesta menjadi ladang uang. 

Dalam kesembuhan kakak pertamaku itu contohnya, Ibulah yang memberiku kami semangat untuk selalu berusaha mencari pintu dan jalan dari Tuhan untuk selalu berkata jika Tuhan masih sayang kepada kami. 

Aku selalu berdo’a dalam hidupku agar dapat memberikan yang terbaik bagi Ibu dan juga keluargaku suatu hari kelak agar Ibu dan keluarga dapat merasakan kebahagian diatas dunia dan akhirat kelak nanti.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel