Kepergian kakak keduaku (Novel Si Kulup Kun Bagian 5)

Kepergian kakak keduaku (Novel Si Kulup Kun Bagian 5) - Setelah aku tamat dari SMA, Aku masih berada bersama kakak sepupuku waktu itu. Dimana setiap hari aku menjalani pekerjaan spesialku itu dengan penuh semangat dan juga harapan yang mungkin bisa memberi kabar baik bagi masa depanku. 
Kepergian kakak keduaku (Novel Si Kulup Kun Bagian 5)

Harapan itu teryata masih ada, dimana saat aku lebih fokus bekerja di rumah bosku saat itu yang bernama Bapak Sofyan Djalil, dimana beliau adalah menteri Kominfo memberiku peluang untuk bisa bekerja di tempat yang lebh baik. 

Mengenai Bapak Sofyan Djalil, beliau adalah orang yang sangat baik bagiku. Bukan karena ia sangat memperhatikanku, namun memang dari segi sosial, dia sangat memperhatikan orang lain, jadi wajar saja jika aku bilang di orang yang dermawan. 

Saat aku bekerja di rumah saja saat itu, dimana setiap pagi aku bekerja mencuci mobil dinasnya, merapikan rumah serta taman yang ada di sekitar tempat tinggalnya, ia selalu memberiku semangat dan juga masukan agar aku harus semangat menjalani hidup agar aku bisa menjadi orang yang lebih baik dan dapat mengejar cita-citaku khususnya dalam hal pendidikanku. 

Aku sangat menghargainya sebagai orang yang sangat mengerti dan peduli dengan kondisi orang kecil sepertiku. Dia juga memberiku lapangan pekerjaan yang lebih baik pada saat itu, dimana aku diberi kesempatan untuk berkarir di perusahaan Sahabatnya yang berada di Jakarta ini. 

Tak berpikir panjang, aku menerima tawaran itu saat itu, berharap semua menjadi lebih baik jika aku bekerja disana. Aku pindah kerja dari kediamannya ke tempat yang telah ia berikan untukku saat itu. 

Setelah aku pikir dengan baik dan berkata kepada kakak sepupuku mengenai perihal tersebut, Kakak sepupuku mengatakan hal yang sama agar aku mengambil kesempatan tersebut, karena itu adalah kesempatan terbaikku untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. 

Dengan segala pertimbangan yang sudah matang, aku pindah dari kediamannya untuk berkarir di tempat yang telah ditentukannya untukku ada. Aku pamit dengan kakak sepupuku dan juga bapak Sofyan Djalil saat itu untuk mengambil kesempatan bekerja di perusahaan sabahatnya itu. 

Saat itu, aku mulai berkelana sendirian di kota Jakarta ini. Dimana saat SMP aku bersama pamanku, dan waktu SMA aku bersama kakak sepupuku, namun pada saat aku bekerja aku memang hidup sendirian dan mandiri. 

Hal itu aku terima dengan baik dan berharap ada perubahan hidup yang dapat aku petik setelah aku mendapatkan pekerjaan tersebut. Hal pertama yang aku pikirlah adalah tentang pendidikanku, yaitu untuk bisa melanjutkan pendidikanku ke jenjang Kuliah setelah aku mendapatkan penghasilan yang lebih dari pekerjaan yang aku jalani saat itu. 

Alhasil, Harapan itu terkabul, dimana setelah aku bekerja dalam tem;o yang singkat, aku berencana untuk mencari tempat kuliah yang berdekatan dengan kantor tempat aku bekerja tersebut. 

Aku menemukannya tempat kuliah yang memang khusus untuk karyawan yaitu Universitas Bung Karno saat itu. Aku mendafarkan diri dan mulai menjalani masa pendidikanku di jenjang kuliah. 

Aku sangat bahagia dan juga gembira dengan pekerjaan dan kuliah yang aku jalani saa itu, ya walaupun penghasilanku kadang tak mampu memberiku lebih, namun aku sangat bersyukur bisa meneruskan pendidikanku ke jenjang yang lebih baik dari teman-teman yang ada di kampungku saat itu. 

Bahagia yang aku rasa tentunya tak lepas dari rasa syukurku kepada Tuhanku yang telah memberiku jalan dan kesempatan. Serta rasa terima kasihku kepada Bapak Sofyan Djalil yang telah memberiku kesempatan untuk mendapatkan masa depanku menjadi lebih baik. 

Apalagi saat itu, aku adalah orang pertama di kampungku yang melanjutkan pendidikan di bangku kuliah Maklum saat itu, orang kampungku belum sadar akan pentingnya pendidikan tinggi untuk putra putrinya sehingga banyak dari mereka mengasuhkan pendidikan itu sendiri. 

Namun setelah mendapatkan kabar tentang aku yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih baik, aura positif itu di terima dengan baik oleh mereka, dimana hingga saat ini mata orang kampungku sudah melek akan pentingnya pendidikan untuk masa depan anak-anaknya. 

Aku juga merupakan orang pertama yang membuka lahan baru dalam keluarha besar dalam hal pendidikan, dimana keluarga besarku tak ada yang tamatan sekolah perguruan tinggi, paling tinggi hanya sebatas SMP saja. 

Seperti kedua orang tuaku, mereka hanya tamatan SD saja. Hal itu yang membuat aku bahagia jika aku mampu membuka tabir peradaban akan dunia pendidikan di kampungku dan juga keluargaku sendiri. 

Jadi, Saat aku menjalani masa kuliah, dimana siang harinya aku bekerja hingga sore dan malam harinya aku di sebukan dengan urusan kuliah. Memang melelahkan bagiku, namun proses itu dapat aku jalani dengan sangat baik, ya walaupun kadang aku merasakan lelahnya raga ini menjalaninya. 

Masa bekerja sambil kuliah aku jalani dengan baik dan berharap apa yang aku lakukan saat itu dapat memberiku bukti dan hasil yang baik untuk masa depanku dan juga masa depan bagi keluargaku terutama bahagia bagi seorang Ibu yang selalu berdo’a untuk kesuksesanku di Jakarta ini. 

Namun sepertinya, Tuhan masih memberikanku dan keluargaku ujian yang begitu berat, dimana saat aku sedang aktivitas pada hari itu, aku mendapatkan kabar dari kampungku jika kakak keduaku mengalami pendarahan hebat paska melahirkan anak pertamanya. 

Mendapatkan kabar tersebut tentunya aku sangat panik dan juga sedih, namun aku tak menduga itu menjadi pertanda jika nyawa kakakku tak tertolong sehingga dia pergi meninggalkan duka yang begitu mendalam bagi keluarga terutama bagi Ibuku yang sempat tak sadarkan diri saat kakakku pergi untuk selamanya. 

Aku yang hanya mndengar kabar duka itu dari telpon, hanya mampu meneteskan air mata dan begtu terasa pekat dalam hati jika aku tak mampu menahan kesedihan jika aku harus kehilangan orang terkasih dalam hidupku untuk yang kedua kalinya. 

Aku bersujud kepada Tuhan agar apa yang sedang terjadi dalam hidupku dan kelaurga mendapatkan kekuatan dan aku mampu melewati semua itu dengan baik dan mampu melanjutkan perjalanan hidupku di Jakarta ini dan juga kuliahku hingga sarjana. 

Ingin sebenarnya aku pulang kampung pada saat itu, namun apa daya saat itu sedang melaksana ujjian sementer sehingga aku terpaku dengan hal tersebut. Apalagi saat itu Ibuku tak mengizinkan aku pulang karena hanya akan membuatku semakin terpuruk dan bisa jadi masa depanku akan hancur di telan kesedihan yang begitu mendalam jika melihat kondisi kakakku saat itu. 

Kakak kedua pergi dan meninggalkan seorang anak perempuan yang saat ini sudah berusia 7 tahun. Sementara kakak iparku telah menikah lagi setelah ditinggal pergi oleh kakak kedua itu. Dan anak kakakku dan ponakan bagiku kini diasuh oleh ibuku di kampung dan tinggal bersama Ibuku. 

Sebenarnya ingin aku rangkul semua derita yang dialami Ibu, namun apa daya saat ini aku juga sedang berjuang menjadi seorang kakak untuk bisa menyekolahkan adik-adik yang ada di dekatku saat ini dan mereka sedang menjalani masa pendidikan sama sepertiku. 

Aku hanya mampu berharap dan terus berharap kepada tuhan, agar semua baik-baik saja, terutama bagi Ibuku, semoga disana ia dapat menjalani kehidupan dengan baik dan bertahan hingga aku lulus dan juga dapat memberikan kebahagian kepadanya di masa tua.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel