Maschun Sofwan, Itu Namaku (Novel Si Kulup Kun Bagian 1)

Maschun Sofwan, Itu Namaku (Novel Si Kulup Kun Bagian 1) - Dari Sebuah Desa kecil bernama Desa Semurung, Kecematan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, dan Provinsi Jambi aku dilahirkan. Aku dilahirkan oleh seorang Ibu bernama Nuranini dan Ayahku bernama Awahab pada hari sabtu, 17 Maret 1984. 
Maschun Sofwan, Itu Namaku (Novel Si Kulup Kun Bagian 1)

Aku dilahirkan di pondok kecil oleh seorang bidan persalinan pada saat itu. Aku merupakan Anak ketiga dari enam bersaundara, dimana aku merupakan anak lelaki pertama setelah kedua kakakku adalah perempuan. 

Aku dilahirkan dalam keluarga yang sangat sederhana, dimana kedua orang tuaku merupakan seorang petani yang sehari-harinya hanya mengandalkan penghasilan dari bertani untuk mencukupi kebutuhan keluarga demi bertahan hidup. 

Kedua orang tuaku memberi nama yaitu Maskun. Nama Maskun sendiri merupakan nama yang diberikan oleh kakekku ketika itu, dimana ia sangat menyukai nama itu karena pada kala itu beliau terinspirasi dari pemimpin negeri Jambi (Gubernur) Yaitu Maschun Sofwan. 

Alasan kakekku memberikan nama itu untukku agar kelak masa depanku dapat menjadi seorang pemimpin dalam keluargaku, desaku dan juga menjadi orang yang sukses di masa depanku kelak aku dewasa. 

Walaupun nama itu tak sesuai dengan nama yang sebenarnya, maklum pada saat itu orang tuaku tidak begitu hafal dengan penulisan nama tersebut dan juga kakekku juga tidak begitu mengerti dengan baik ejaan akan namaku yang sebenarnya, sehingga namaku ditulis dengan sebutan Maskun saja tanpa ada sofwannya. 

Namun yang jelas, alasan itu telah melekat pada namaku sehingga saat aku besar, aku baru menyadarinya jika namaku tersebut ada yang salah dalam penulisannya dan juga tidak mengikuti nama panjangnya. Walaupun begitu, aku lebih menyukai namaku dengan sebutan Maschun, dan nama ini menjadi panggilanku sehari-hari, untuk media sosialku dan juga nama dalam setiap tulisanku. 

Terlahir dari keluarga petani aku sangat bahagia, karena petani pekerjaan yang mulia dan juga memberi manfaat banyak bagi kebutuhan pokok negeri ini. Namun sangat di sayangkan, jika para petani di negeri masih banyak yang tak dihargai, padahal jika melihat kohidupan mereka perlu ada pemerataan kesejahteraan oleh pemerintah. 

Pekerjaan kedua orang tuaku pada saat itu memang itulah yang dapat dikerjakan oleh mereka, karena maklum mereka tak memiliki pendidikan yang tinggi untuk bisa bekerja ditempat yang lebih baik. 

Begitu juga dengan Orang Kampungku rata-rata mereka adalah petani dan tak ada pekerjaan lain. Masyarakat desaku bekerja sebagai petani karet, sawah dan juga sawit. 

Walaupun ada beberapa pekerjaan lain seperti guru sekolah, guru madrasah dan juga PNS, Namun itu hanya untuk mereka yang memiliki uang dan juga pendidikan yang lebih pada saat itu. 

Mengenai kakekku, Kata orang kampungku pernah menjadi orang yang sukses pada masanya, Namun tidak sampai pada saat aku dilahirkan. Menurut cerita dari Orang tuaku terutama Ibu yang merupakan Anak Kedua dari Kakekku mengatakan Jika Kekekku merupakan saudagar yang kaya pada masanya, namun ketika aku dilairkan, kakekku bangkrut dengan alasan yang aku ketahui adalah karena kakek memiliki istri kedua selain nenekku. 

Mengenai masa kecilku, Aku menjalani masa tersebut dengan sangat bahagia bersama keluarga utuhku. Aku menjalani masa kecilku di sebuah desa yang begitu rindang, asri, ramah masyarakatnya, sejuk dan juga damai kala itu, dimana aku sangat merasa jika aku akan tinggal disana hingga aku dewasa, bahkan hingga aku tua nanti. 

7 Tahun berlalu, Aku tumbuh menjadi anak yang sehat dan juga periang. Melalui masa anak-anak, aku menempuh pendidikan pertamaku di bangku SDN 95/VI Desa Semurung Air Hitam. Aku tidak melalui masa TK karena memang pada saat itu tidak ada TK Di desaku, begitu juga dengan PAUD. 

Sebelum aku masuk sekolah dasar pada saat itu, Aku menempuh pendidikan agama di sebuah madrasah di desaku dan juga belajar bersama kakak-kakakku dirumah. 

Selama aku menjalani masa pendidikanku disekolah dasar, kedua kakakku menjalani pendidikan dibangku SMP, dimana kakak pertamaku menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di kabupaten Sarolangun tepatnya di pondok pesantren di Singkut. Sementara kakak keduaku menjalani pendidikan SMP yang ada dikampungku yaitu SMP terbuka. 

Alasan kakak keduaku masuk SMP terbuka pada kala itu adalah karena kedua orang tuaku memang tidak mampu jika harus membiayai secara bersamaan jika harus sekolah ditempat umum. Dengan kakak keduaku masuk sekolah terbuka maka biaya pendidikan bisa dialihkan untuk keluarga, maklum pada saat itu orang tuaku hanya seorang petani yang memiliki penghasilan tidak menentu. 

Apalagi pada masa itu, dimana keadaan ekonomi Indonesia terkena dampak krisis moneter sehingga perekonomian sangat sulit di dapat dan hal itu berdampak besar kepada pekerja kasar seperti Ayahku. 

Dalam melewati masa krisis moneter itu, ya terkadang ayahku harus mondar-mandir cari pemasukan lain dan harus minjam kesana-kemari demi memenuhi kebutuhan keluarga. 

Aku yang belum mengerti dengan baik dengan kondisi keluarga saat itu tak menyadari jika aku tela terbiasa dengan kehidupan yang serba sulit dari kecil. Namun Ayah dan Ibuku tak pernah menampakan itu kepada keluarga akan kondisi tersebut. 

6 Tahun berlalu, aku lulus sekolah dasar, sementara kakakku yang pertama juga lulus di bangku SMP, Sedangkan kakak keduaku masi menginjak bangku kelas dua SMP saat itu. Kakakku pertamaku memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi ke bangku SMA, Karena memang pada saat itu perekonomian keluarga tak mampu lagi membiayai pendidikan kakakku. 

Begitu juga dengan aku saat itu, setelah aku lulus SD, Aku berharap bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP ditempat yang umum, namun pada kenyataannya berbeda, aku hanya mampu meneruskan di sekolah terbuka sama seperti kakak keduaku saat itu. 

Walaupun seperti itu, aku menjalani dengan bahagia karena aku telah mengetahui dan memahamii jika kondisi keluargaku saat itu memang jauh dari harapan yang aku harapkan. Aku sangat menyadari dan tak mau meminta sesuatu yang hanya akan membuat orang tuaku semakin berat. aku menjalani masa itu dengan tulus dan ikhlas dan berharap aku bisa mengeyam pendidikan yang lebih baik bila ada kesempatan dan juga waktu memberi ruang yang berbeda untuk bisa aku bergerak. 

Menjalani masa pendidikan dibangku SMP terbuka dikampungku berlangsung dari jam 01.00 siang hingga sore hari. Karena waktu pagi kosong, maka menghabiskan waktu tersebut untuk membantu orang tuaku mencari uang, paling tidak untuk kebutuhanku sendiri saat itu. 

Saat itu juga, aku sudah mulai bekerja menjadi buruh kasar sawit bersama kedua kakakku. Jadi buruh sawit pada saat itu dimulai waktu subuh, dimana aku harus bangun pagi untuk berkemas dan berangkat ke ladang sawit yang cukup jauh dari desaku untuk bekerja. 

Saat itu, teman sebayaku juga banyak yang bekerja seperti itu, jadi aku tidak terlalu canggung dan merasa minder dengan kondisi aku saat itu. Aku bekerja dari jam 07.00 WIB pagi hingga jam 11.00 WIB siang dengan pengasilan 15.000/hari pada saat itu. 

Walaupun saat itu orang tuaku sering beradu argumen dengan kondisi anak-anaknya pada bekerja, dimana Ibuku sering komentar kepada Ayah agar tidak membiarkan anak-anaknya untuk bekerja seperti itu, namun Ayahku selalu bilang itu adalah kemauan kami sendiri. 

Pertengkaran antara Ayah dan Ibu Sering terjadi, apalagi pada saat itu aku baru berumur belasan tahun yang seharusnya tidak boleh bekerja dan bisa menikmati masa anak-anak dan pertumbuhanku dengan baik, Namun hal itu tidak menjadi masalah besar, karena pada saat mereka bertengkar dengan masalah itu, kakakku selalu menjelaskan kepada mereka berdua jika kami bekerja memang atas ingin kami sendiri. 

Aku menjalani masa itu dengan senang dan bahagia. Meskipun kadang begitu lelah terasa, dimana seharusnya aku melewati masa anak-anakku untuk bermain, namun saat itu tidak ada celah bagiku untuk berleha-leha karena memang tuntutan hidup harus aku taklukan dengan kegiatan yang bermanfaat seperti aku harus bekerja dari sejak kecil. 

Masa yang sulit bagiku, keluargaku, namun apapun yang terjadi aku merasa itu yang harus aku jalani dan aku rasakan saat itu. Apalagi saat itu aku juga harus pupus dalam menempu pendidikan SMP. Dimana saat kakak kedua lulus SMP, Aku yang saat itu baru masuk kelas satu, SMP terbuka di kampungku bubar tanpa alasan yang jelas sehingga membuat sekolahku terbengkalai tak karuan. 

Aku dan teman yang masih berada di bangku kelas satu dan dua harus memupus impian untuk bisa sekolah lagi karena SMP terbuka pada saat itu sudah tutup. Namun aku tak patah semangat, walaupun aku harus menganggur dalam waktu 2 tahun tidak bisa sekolah, aku menjalani masa itu dengan sangat baik, aku terus belajar dirumah bersama kakakku yang kala itu sudah tamat SMP. 

Bersama ketiga adikku yang kala itu masih kecil-kecil, aku lebih banyak belajar dirumah untuk bisa membaca, menghitung, dan lain sebagainya. Dalam waktu menganggur dari masa pendidikannku, hariku lebih banyak aku habiskan untuk membantu orang tuaku bekerja seperti menjadi buruh sawit dan juga buruh kayu saat itu. 

Selama 2 tahun berlalu, aku tak lagi memikirkan untuk bisa melanjutkan pendidikannku di jenjang SMP, Aku terus berdo’a agar ada kesempatan lain untuk bisa aku melanjutkannya dan aku selalu bertanya kepada orang tuaku kapan aku bisa sekolah lagi. 

Pada saat itu, Orang tua belum juga memberiku jawaban akan masa depan pendidikannku, apalagi pada saat itu, kondisi keluarga besarku sedang berduka, dimana nenek dan kakeku berselang tak begitu lama pergi untuk selamanya. 

Kepergian nenek dan kakekku juga menyita kesedihanku bagiku, dimana saat mereka masih ada, aku sering mendapatkan nasehat dari mereka tentang hidup untuk masa depanku. Aku seirng bercerita kepada mereka berdua jika hidup yang aku jalani begitu berat untuk aku rasa dan jalani. 

Mereka berdua merupakan tempat berbagi ketika aku merasa sedih, merasa senang, apalagi aku juga sering menginap dirumah mereka jika aku libur bekerja. Mereka merupakan orang yang sangat dekat denganku sehingga saat mereka pergi, aku sangat kehilangan mereka berdua. 

Kepergian kakek dan nenekku meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga besarku, begitu juga denganku saat itu, namun yang namanya hidup harus terus dijalani, apapun yang terjadi. karena sejatinya hidup di dunia ini adalah tak ada yang abadi dan suatu hari nanti mungkin juga mereka yang aku sayang juga akan pergi seperti nenek dan kakekku itu, dan mungkin saja aku yang duluan. 

Paska kepergian nenek dan kakekku tentunya mempengaruhi jalan hidupku, aku terkadang merasa kehilangan mereka saat aku merasa sedih karena tak ada lagi tempat untuk bercerita dan juga mendengarkan cerita dari mereka yang selalu membuat aku lupa akan kesulitan hidup jika berada di dekat mereka berdua. Namun aku percaya mereka selalu ada melihatku, mendengarkanku dan aku selalu berdo’a untuk mereka agar mendapatkan tempat terbaik nan Indah disisi Allah SWT di alam surga, Amin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel