7 Tahap Dalam Menyusun Skripsi Kuliah

7 Tahap Dalam Menyusun Skripsi Kuliah – Tugas akhir dari persyaratan tamat kuliah untuk menjadi seorang sarjana adalah dengan membuat skr...

8 Golongan Manusia Yang Nyaman di Padang Masyar Nanti

Ketika bumi dan langit dimusnahkan karena hari kiamat dengan berbagai peristiwa besar seperti ditiupkannya terompet iisrafil dan datangnya Dukhan, Dajjal, Adanya Yajuj dan Majuj, kedatangan Nabi isa As dan imam Mahdi, dan persitiwa dahsyat lainnya, maka seluruh makhluk hidup akan musnah alias mati termasuk manusia. 
8 Golongan Manusia Yang Nyaman di Padang Masyar Nanti

Ketika semuanya sudah musnah, maka Allah SWT akan menghidupkan kembali manusia dengan berbagai rupa dan bentuk sesuai dengan amal ibadahnya ketika hidup di dunia ini. Adanya yang berbadan manusia berkepala babi, bentuk wajah yang menyeramkan, dan ada pula yang bersinar wajahnya dan lain sebagainya. 

Ketika manusia ini dibangkitkan, maka akan dikumpulkan di sebuah hamparan lapangan yang begitu luas yang bernama pada masyar. Apa itu Padang Mahsyar?. Padang masyar merupakan tempat manusia berkumpul setelah mati. Kehidupan setelah kematian nanti dikumpulkan di suatu tempat yang sangat luas, namanya Padang Mahsyar. 

Menurut Dr Ahmad Hatta MA dan kawan-kawan menyebutkan dalam buku Bimbingan Islam untuk Hidup Muslimah halaman 40, setelah dibangkitkan dari kubur pascatiupan terompet kedua, manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar, dalam keadaan seperti ketika ia dilahirkan. Nabi SAW bersabda, 

“Kalian akan dikumpulkan di Padang Mahsyar (dalam keadaan) tidak bersandal, telanjang, dan tidak berkhitan. 'Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah laki-laki dan perempuan bisa saling melihat (aurat) satu sama lain? Nabi menjawab, Masalah yang dihadapi ketika itu sangat dahsyat sehingga orang tidak memikirkan hal itu." (Shahih Bukhari, 5/6162). 

Jarak Padang Mahsyar dan matahari sangat dekat, sehingga ada orang yang berkeringat sampai mata kaki, lutut, pinggang, dan ada yang sampai mulutnya. Namun, banyak juga orang yang nyaman berlindung di bawah 'Arasy Allah SWT karena amal perbuatan yang baik yang telah ia lakukan di dunia. Lalu siapa saja golongan manusia yang akan selamat tersebut?, Berikut Tujuh golongan manusia yang aman dan nyaman ketika berada di Padang Mahsyar nanti : 

1. Pemimpin Yang Adil 

Nabi Muhammad SAW menyebut imam atau pemimpin yang adil sebagai satu dari tujuh kelompok yang mendapat naungan Allah di hari kiamat. Sebenarnya agama tidak hanya menuntut pemimpin untuk bersikap adil, tetapi juga umat manusia secara umum sebagaimana tercantum dalam Surat An-Nahl ayat 90. 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ 


Artinya, “Sungguh Allah memerintahkan (kamu) untuk berbuat adil dan berbuat baik,” (Surat An-Nahl ayat 90). 

Sementara pada surat lain, Allah juga memerintahkan manusia untuk bersikap adil. Pada Surat Al-Hujurat ayat 9 berikut ini, Allah menyatakan restu-Nya untuk mereka yang berbuat adil. 

وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 


Artinya, “Berbuat adillah, Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil,” (Surat Al-Hujurat ayat 9). 

Adapun sebutan imam atau pemimpin yang adil dapat ditemukan dalam riwayat Bukhari dan Muslim berikut ini. Imam atau pemimpin yang adil disebut pertama sebagai kelompok yang mendapat naungan Allah di hari kiamat. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ متفق عليه 


Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang mengisi hari-harinya dengan ibadah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya bertemu dan berpisah karena Allah, seorang yang dibujuk berzina oleh lawan jenis yang berpangkat dan rupawan lalu menjawab, ‘Aku takut kepada Allah,’ seseorang yang bersedekah diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir di kesunyian dengan menitikkan air mata,’” (HR Bukhari dan Muslim). 

Penyebutan pertama imam atau pemimpin yang adil ini bukan tanpa makna. Penyebutan pertama imam atau pemimpin yang adil menunjukkan betapa pentingnya keadilan imam atau pemimpin. Peyebutan pertama imam atau pemimpin yang adil menandai nilai kehadirannya di tengah masyarakat karena berurusan dengan kepentingan publik dan hajat hidup orang banyak, terutama sebagai pihak yang paling pertama memenuhi kelompok dhuafa dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan haknya. 

وبدأ بالشخص العادل لأن حياته له وللناس فإن الحاكم العادل هو الكاسر لشوكة الظلمة والمجرمين وهو سند الضعفاء والمساكين وبه ينتظم أمر الناس فيأمنون على أرواحهم وأموالهم وأعراضهم 


Artinya, “Allah mengawali tujuh kelompok dengan menyebut ‘orang yang adil’ terlebih dahulu karena kehidupannya itu menyangkut dirinya dan nasib orang banyak. Pemerintah yang adil ini adalah ia yang mematahkan ‘duri’ orang-orang zalim dan pelaku kriminal. Ia adalah sandaran kaum dhuafa dan orang-orang miskin. Dengan kehadiran pemerintah yang adil, urusan publik terselesaikan sehingga mereka merasa aman dan terjamin jiwa, harta, dan nama baiknya,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 256). 

Tetapi imam atau pemimpin yang adil bukan lagi berbicara jenis kelamin atau terbatas pada aparat pemerintah belaka. Imam atau pemimpin memiliki pengertian yang luas. Kata imam atau pemimpin juga mencakup siapa yang mengemban amanah dalam bentuk apa pun yang dituntut untuk bersikap adil. Imam atau pemimpin, kata Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, bisa diterjemahkan sebagai seorang suami, seorang istri, seorang ayah, seorang ibu, seorang anak, seorang guru, seorang murid, seorang kepala bagian, seorang komandan, dan lain sebagainya yang mengemban kewajiban tertentu. 

الإمام العادل الحاكم العام التابع لأوامر الله تعالى فيضع كل شيء موضعه من غير إفراط ولا تفريط فدخل في ذلك الأمير ونوابه والرجل في أهله والمرأة في بيتها والمدرس في فصله 


Artinya, “Imam atau pemimpin yang adil pemerintah secara umum yang mengikuti perintah Allah. Ia menempatkan segala sesuatu di tempatnya tanpa kelebihan dan tanpa kekurangan. Kata ‘pemerintah’ di sini mencakup presiden dan aparatnya sampai yang terbawah, seorang di tengah istri dan anak-anaknya, seorang istri di rumah, seorang guru di dalam kelas,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 256). 

2. Pemuda dan Pemudi Ahli Ibadah 

Masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Maka ini merupakan nikmat besar dari Allah Ta’ala yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya untuk amal kebaikan guna meraih ridha Allah Ta’ala. Dan sebagimana nikmat-nikmat besar lainnya dalam diri manusia, nikmat inipun nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta’ala. Allah SWT berfirman, 

{أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ. لِيَوْمٍ عَظِيمٍ. يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ} 


Artinya : “Tidakkah mereka itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar (dasyat), (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam (Allah Ta’ala)” (QS al-Muthaffifiin: 4-6). 

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergesar kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya”. 

Akan tetapi bersamaan dengan itu, masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwanya, yang ini sering menyebabkan dia mengalami keguncangan dalam hidup dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari berbagai masalah tersebut. 

Dalam kondisi seperti ini, tentu peluang untuk terjerumus ke dalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan oleh setan sangat besar sekali, apalagi Iblis yang telah bersumpah di hadapan Allah U bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan-Nya dengan semua cara yang mampu dilakukannya, tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Allah SWT berfirman, 

{قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ} 


Artinya : “Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) manusia dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (QS al-A’raaf: 16-17). 

Di sinilah terlihat peran besar agama Islam sebagai petunjuk yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada umat manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka di dunia dan akhirat. Agama Islam sangat memberikan perhatian besar kepada upaya perbaikan mental para pemuda. Karena generasi muda hari ini adalah para pemeran utama di masa mendatang, dan mereka adalah pondasi yang menopang masa depan umat ini. 

Oleh karena itulah, banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menghasung kita untuk membina dan mengarahkan para pemuda kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah, dan generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang shaleh, insya Allah SWT. Pemuda yang dijanjikan akan mendapatkan naungan Allah SWT, Rasulullah SAW bersabda, 

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ» 


“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”. 

Hadits yang agung ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi seorang pemuda muslim sekaligus menjelaskan keutamaan besar bagi seorang pemuda yang memiliki sifat yang disebutkan dalam hadits ini. Syaikh Salim al-Hilali berkata: “(Hadits ini menunjukkan) keutamaan pemuda yang tumbuh dalam dalam ketaatan kepada Allah, sehingga dia selalu menjauhi perbuatan maksiat dan keburukan”. 

Imam Abul ‘Ula al-Mubarakfuri berkata: “(Dalam hadits ini) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhusukan (penyebutan) “seorang pemuda” karena (usia) muda adalah (masa yang) berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat, disebabkan kuatnya pendorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda, maka dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah (tentu) lebih sulit dan ini menunjukkan kuatnya (nilai) ketakwaan (dalam diri orang tersebut)”. 

Dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW bersabda, 

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ» 


“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah”. 

Artinya: pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan. 

Inilah sosok pemuda muslim yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan pandai mensyukuri nikmat besar yang Allah Ta’ala anugrahkan kepadanya, serta mampu berjuang menundukkan hawa nafsunya pada saat-saat tarikan nafsu sedang kuat-kuatnya menjerat seorang manusia. Ini tentu merupakan hal yang sangat sulit dan berat, maka wajar jika kemudian Allah Ta’ala memberikan balasan pahala dan keutamaan besar baginya. 

3. Orang Yang Hatinya Terpaut Dengan Masjid 

CIRI pertama kedewasaan seorang laki-laki adalah memakmurkan masjid. Hati mereka selalu terpaut pada-Nya. Di masjid, laki-laki mensucikan diri, bersujud, berzikir dan sholat. Perdagangan, jual beli dan macam-macam urusan duniawi tak menggoyahkan hati mereka untuk mendatangi masjid. Masjid bukan sekadar tempat untuk numpang pipis. 

Ibnu Hajar menjelaskan, “Sebagaimana disebut dalam hadits shahihain, makna “tergantung pada masjid” adalah menempel atau melekat seperti sesuatu yang tergantung di masjid semisal lampu sebagai bukti dari ketergantungan hatinya meskipun jasadnya tidak berada di dalam masjid. 

Nabi SAW. mengingatkan tentang keutamaan masjid sebagaimana sabdanya, “Tempat yang paling aku sukai di sebuah negeri adalah masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.” 

Perhatikan, sebesar apapun ketergantungan Rasulullah SAW. pada masjid dan sekuat apa Rasulullah SAW. menjaga sholat berjamaah di masjid? Rasulullah sampai tiga kali jatuh pingsan dan setiap kali tersadar, Rasulullah kembali berwudhu kemudian berusaha bangkit untuk pergi ke masjid meskipun pada akhirnya Rasulullah SAW. mendapati dirinya tak mampu lalu mengutus Abu Bakar mengimami sholat. 

Para ulama salaf telah memberikan teladan yang indah dan tepat dalam hal mencintai masjid dan menjaga sholat berjamaah. Sebab, mereka meyakini bahwa masjid merupakan membentuk laki-laki pemberani yang sebenarnya. 

Seorang tabiin, Said bin al-Musayyab pernah berkata “Aku tidak pernah melewatkan sholat berjamaah selama empat puluh tahun.” Dia menambahkan, “Aku tidak pernah takbiratul ihram selama lima puluh tahun karena itu aku tidak pernah melihat siapa yang ada di shaf (barisan) paling akhir.” 

Barad, pembantu Said al-Musayyab, pernah berkata “Tak ada sholat yang kami lakukan selama empat puluh tahun, kecuali Said sudah ada di dalam masjid.” 

Para ulama senantiasa sholat berjamaah di masjid meski mereka mendapat keringanan untuk tak sholat berjamaah di masjid. 

Adalah ar-Rabi bin Khutsaim yang tetap melangkahkan kakinya pergi ke masjid meski dalam keadaan sakit. 

Orang-orang menasihati, “Wahai Abu Yazid–panggilan ar-Rabi bin Khutsaim, engkau sholat di rumah saja!” 

Ia menjawab, “Sesungguhnya aku ingin mengikuti saran kalian, akan tetapi mendengar panggilan Hayya ‘ala alfalah. Siapa saja mendengar itu, dia wajib menjawab panggilan itu, meski harus merangkak atau merayap.” 

Beda dengan Abu Abdurrahman As-Silmu yang digotong karena sakit untuk pergi ke masjid, bahkan ia tetap menyuruh orang-orang untuk mengangkatnya meski cuaca sedang hujan dan berlumpur. 

Masjid merupakan tempat pembentukan laki-laki pemberani yang sebenarnya. Seorang penyair Islam mengatakan, “Tiada pahlawan dicetak kecuali mereka itu lulusan masjid-masjid, yang di dalamnya ada taman al-Qur’an dan di bawah naungan hadits-hadits shahih.” 

4. Orang yang cinta dan benci karena Allah SWT

Seorang muslim yang telah menyatakan ikrar hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata sebagai Tuhan yang layak disembah dan tiada Tuhan selain-Nya, haruslah selalu tunduk dan patuh atas segala perintah-Nya serta berserah diri seluruh hidup dan matinya hanya untuk Allah. Sebagai bentuk konsekwensi dari implementasi‎nya, seorang muslim haruslah menunjukkan sikap cinta dan benci karena Allah saja melalui prinsip Al Wala wal Bara'. 

Prinsip akidah ini merupakan tanda kesempurnaan iman seorang muslim dan lurus tidaknya tauhid hanya kepada Allah. Wujud dari prinsip Al Wala ini adalah mencintai, berkasih sayang, ‎lemah lembut, persaudaraan dan loyalitas terhadap sesama muslim sebagaimana yang diperintahkan Allah. Sedangkan wal Bara' adalah menunjukkan kebencian kepada yang Allah benci yaitu membenci musuh-musuh Allah seperti orang kafir dan musyrikin dengan menjauhi dari mereka, memisahkan diri darinya, dan berlepas diri dari segala bentuk kekufuran dan pelakunya. 

5. Orang Yang Tidak Berani Melakukan Maksiat Karena Takut Kepada Allah SWT 

Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50). 

Lihat juga bagaimana Allah SWT berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi SAW : 

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ 



Artinya : “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.” (QS. Al Anbiya: 90) 

6. Orang Yang Bersedekah Dengan Sembunyi-Sembunyi 

Bersedekah memang tidak pernah terlepas dari akhlak baik umat muslim yang suka membantu sesama. Rasulullah bahkan senantiasa bersegera dalam bersedekah. Uqbah bin Al Harits radliallahu ‘anhu menceritakan kepadanya, katanya: 

“Nabi Shallallahu’alaihiwasallam shalat ‘Ashar berjama’ah bersama kami. Tiba-tiba Beliau dengan tergesa-gesa memasuki rumah. Tidak lama kemudian Beliau keluar, dan aku bertanya atau dikatakan kepada Beliau tentang ketergesaannya itu. Maka Beliau berkata, “Aku tinggalkan dalam rumah sebatang emas dari harta shadaqah. Aku tidak mau bila sampai bermalam, maka aku bagi-bagikan.” (HR Bukhari) 

Namun masih ada orang yang bertanya-tanya, apakah sedekah itu perlu dilakukan secara terang-terangan, atau sebaiknya sembunyi-sembunyi?. Allah SWT berfirman: 

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ 


Artinya : “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271) 

Dari ayat di atas menyebutkan bahwa keduanya diperbolehkan, namun sedekah yang dilakukan sembunyi-sembunyi adalah lebih baik. Namun ada kalanya orang bersedekah dengan maksud agar orang lain ada yang mengikuti apa yang dilakukannya itu. Jadi dia bersedekah untuk memotivasi orang lain agar mau bersedekah pula. Tentu saja hal ini diperbolehkan. Sebab mengajak orang untukberbuat baik tidak hanya mendatangkan pahalabagi orang yang bersedekah, tetapi juga bagi orang yang memotivasinya. 

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim) 

Jadi tidak ada larangan terkait sedekah secara terang-terangan. Hanya saja kita perlu meyakinkan diri bahwa sedekah tersebut memang diniatkan karena Allah semata, bukan yang lain. 

7. Orang Yang Mengingat Allah SWT Sampai Menangis 

Kita tidak bisa tiba-tiba menangis karena Allah begitu saja, kita tidak bisa merencanakan tangisan ini, kita tidak bisa menangis sesuai keinginan kita. Akan tetapi tangisan ini, timbul karena takut kepada Allah, bergetar hatinya karena nama Allah disebut dan berguncang jiwanya ketika mengingat maksiat dan dosa yang ia lakukan, oleh karena itu inilah tangisan keimanan, tangisan kebahagiaan dan tangisan hanifnya jiwa. Allah SWT berfirman, 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ 


Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2) 

8. Orang yang hobi Bersholawat Kepada Nabi Muhammad SAW 

Dalam kondisi yang sulit itu ketika di padang masyar kelak, membuat manusia mencari nabi yang bisa memberikan syafa'at, yaitu memintakan ampunan kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Tidak ada satu pun nabi yang bisa memberi syafa'at, kecuali Nabi Muhammad SWT. 

Bagi yang hobi bersholawat, mengikuti sunnahnya, dan mencintai nabi Muhammad SAW, maka ia akan mendapatkan pertolongan yang spesial dari Rasulullah SAW, salah satunya Nabi Muhammad SAW menyiapkan telaga Al-Khausar untuk umatnya agar bisa menghilangkan dahaga ketika terik matahari dipadang masyar nanti. 

Itulah ulasan mengenai tujuh golongan umat manusia yang akan aman serta nyaman ketika berada di padang masyar nanti. Semoga bermanfaat untuk kita semua dan menjadi acuan agar kita selalu berbuat baik diatas dunia ini sehingga kita selamat dunia dan akhirat kelak, terima kasih.
Loading...

Belum ada Komentar untuk "8 Golongan Manusia Yang Nyaman di Padang Masyar Nanti"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel