Inilah Sebab Doa Dikabulkan dan Tidak Oleh Allah SWT

Doa diperlukan oleh setiap Muslim. Doa diungkapkan hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Doa bisa berisi urusan dunia dan akhirat. Dikutip dari laman Muslim.or.id, Ustadz Muhammad Saifuddin Hakim PhD menjelaskan bahwa doa termasuk ibadah yang paling agung. Doa bukan sekadar kalimat-kalimat yang diucapkan secara lisan. Akan tetapi, terdapat beberapa syarat dan kondisi sehingga doa bisa dikabulkan.

Inilah Sebab Doa Dikabulkan dan Tidak Diterima Allah SWT

Apa saja sebab-sebab terkabulnya doa, berikut ini empat di antaranya, seperti dijelaskan Ustadz Saifuddin.

1. Ikhlas

Mengikhlaskan doa tersebut untuk Allah Subhanahu wa ta’ala, konsisten (istikamah), dan menjauhi kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman:

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ


Artinya: "Maka berdoalah (sembahlah) Allah Ta’ala dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)." (QS Ghaafir: 14)

Maka itu, tauhid (ikhlas) merupakan syarat terkabulnya doa tersebut. Sebab, tauhid akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala dan sebagai sarana (wasilah) dikabulkannya doa seorang hamba.

2. Sepenuh hati

Berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sepenuh hati, menghadirkan hatinya untuk benar-benar dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Tidak berdoa dengan hati yang lalai dan berpaling, sehingga hanya menggerakkan lisannya saja, sedangkan hatinya berpaling memikirkan yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ


Artinya: "Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mengabulkan doa dari hati yang lalai dan berpaling." (HR Tirmidzi Nomor 3488 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/493).

3. Menyebut nama dan sifat Allah Ta'ala

Berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan menyebutkan nama dan sifat Allah Ta’ala. Misalnya yaa Rahmaan, yaa Rahiim, yaa Allah, dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ


Artinya: "Hanya milik Allah asmaa-ul husna. Maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya." (QS Al-A’raf: 180)

4. Di waktu mustajab

Mencari waktu-waktu yang merupakan waktu istimewa (mustajab) terkabulnya doa. Hal yang dituntut dari seorang Muslim adalah berdoa secara terus-menerus di waktu kapan pun. Akan tetapi, seorang Muslim juga hendaknya memerhatikan waktu-waktu khusus yang lebih besar kemungkinan untuk dikabulkan.

Misalnya ketika bersujud, atau di akhir malam, atau di bulan Ramadhan, lebih khusus lagi di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Ini adalah waktu-waktu istimewa, sehingga hendaknya lebih banyak berdoa di waktu-waktu tersebut dibandingkan di waktu lainnya.

Hal Penghalang Terkabulnya Doa

1. Hati yang masih lalai

Hati yang masih lalai dan berpaling ketika berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Berdoa kepada Allah Ta’ala harus dengan sepenuh hati, menghadirkan hatinya untuk benar-benar dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Tidak berdoa dengan hati yang lalai dan berpaling, sehingga hanya menggerakkan lisan saja, sedangkan hatinya berpaling memikirkan yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:


ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ


Artinya: "Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mengabulkan doa dari hati yang lalai dan berpaling." (HR Tirmidzi Nomor 3488 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/493).

2. Memakan harta haram

Penghalang terbesar terkabulnya doa adalah memakan harta atau barang haram. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟


Artinya: "Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam menceritakan tentang seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya menjadi kusut dan berdebu. Orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, 'Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.' Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan doanya." (HR Muslim Nomor 1015)

Ustadz Saifuddin Hakim mengatakan seorang Muslim harus menjauhi makanan haram karena menjadi salah satu penghalang terkabulnya doa dan menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Terkadang, lanjut dia, kecintaan seseorang terhadap harta mendorongnya untuk memperoleh harta tersebut dari cara yang haram, seperti melakukan penipuan, memakan harta riba, atau harta suap, dan cara-cara lainnya yang diharamkan oleh syariat. Demikian pula harus menjauhi memakan yang diharamkan, seperti babi atau khamr.

Belum ada Komentar untuk "Inilah Sebab Doa Dikabulkan dan Tidak Oleh Allah SWT"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel